Di Minnesota, kujumpai arti indahnya berkeluarga dan 10.000 danau-nya

Setelah aku selesai menunaikan tugas di Louisiana University of Layafette. Perjalanan selanjutnya adalah pergi ke Negara bagian Minnesota. Aku hendak mengunjungi sebuah keluarga yang kukenal dari facebook, yaitu keluarga om Api Sulistyo. Dia dan keluarganya tinggal di daerah Minnesota. Om Api Sulistyo ini adalah kakak tingkatku jauh sewaktu sekolah dulu. Dia angkatan 77 dan aku angkatan 95. Om Api orang Indonesia asli dari klaten namun sudah menetap lama di Minnesota, karena istrinya adalah seorang Amerika. Selama ini komunikasi kami berdua terjalin hanya melalui sosial media saja. Om Api sudah memiliki 4 orang anak, 2 perempuan dan 2 laki-laki. Yang sangat membuatku tertarik dengan sosok om Api adalah jiwa cinta terhadap keluarganya. Bisa kulihat dari postingan-postingan dia di sosial media selalu berkutat di pekerjaan yang dia geluti dan rutinitas pengalaman hidup berkeluarga, seperti bagaimana dia berkisah tentang suport dia terhadap istrinya yang sangat hobby main kayak. Bagaimana dia menemani anak laki-lakinya aktif di marching band dan yang satunya aktif di olahraga loncat indah. Belum lagi ketika dia suport terhadap anak-anaknya yang perempuan. Perasaan tertarik inilah yang membawaku ingin bertemu dengan dia, sehingga kuputuskan aku akan terbang ke minnesota untuk bertemu om Api Sulistyo dan keluarganya. Aku ingin merasakan sendiri kehangatan didalam keluarga itu.  

Penerbangan dari New Orleans ke Minnesota yang kuambil penerbangan yang tidak langsung, tetapi penerbangan yang akan transit sebentar di Chicago. Hal itu aku lakukan karena aku mempunyai agenda lain setelah dari Minnesota akan ke Urbana, Champaign mengunjungi om Leo Sudibyo sekeluarga yang menetap disana. Aku terbang dari New Orleans sore hari, kurang lebih lama penerbangan ke Chicago 2 jam-an. Bandara Chicago rupanya besar sekali. Aku sempat kehilangan arah untuk mencari dimana gate selanjutnya yang akan membawaku terbang ke Minnesota. Dalam tiket penerbanganku tidak dicantumkan harus ke gate mana, sehingga aku berspekulasi mengikuti orang saja dengan mencoba mencari informasi jadwal penerbangan dari layar-layar monitor yang bertebaran di bandara. Penerbanganku dari Chicago ke Minnesota menggunakan pesawat United, namun informasi yang ada semuanya adalah American Airlines. Tersesatku hingga sampai ke ujung gate dan tidak kutemui gate penerbangan United ke Minnesota. Akhirnya aku bertanya kepada petugas gate menanyakan gate penerbangan ke Minnesota via United. Dia mengatakan bahwa untuk United pakai terminal D, sedangkan posisiku saat ini ada di terminal K. Dia mengatakan kamu harus lekas-lekas karena jarak terminal K menuju ke terminal D jauh. Pengalaman tertinggal pesawat di Belanda lantas membayangiku. Perasaan takut menyelimutiku hingga aku langsung berbalik lari untuk mencari terminal D berada. Rasanya belum tenang kalau belum melihat plangkat bertuliskan “terminal D”. Posisi perut lapar aku abaikan dulu. Prioritas pertama aku harus menemukan terminal D dan kemudian menemukan gate pesawat yang menuju ke Minnesota. Begitu sudah menemukannya, hatiku sangat lega dan plong sekali. Dan saatnya cari makan untuk mengganjal perut yang keroncongan. Namun rupanya toko makanan di bandara Chicago tidak buka 24 jam. Banyak yang sudah tutup dan akhirnya aku cukup makan hamburger saja sambil menunggu jam untuk terbang ke Minnesota. 

Penerbangan dari Chicago ke Minnesota-pun kurang lebih menempuh perjalanan udara sekitar 2 jam. Berhubung penerbangan malam, suasana dari atas begitu gelap dan hanya beberapa titik penuh dengan kerlip-kerlip lampu. Setelah tiba di bandara Saint Paul, Minnesota, langkah pertama yang aku lakukan adalah mencari koneksi wifii gratis bandara. Hal itu penting dilakukan karena aku perlu memberi kabar kepada om Api kalau aku sudah tiba di Minnesota. Dan rupanya dia sudah menungguku di luar bandara. Kita janjian ketemuan di pintu 6. Akhirnya aku lekas-lekas mencari dimana pintu 6 yang dimaksud. Setelah ketemu, aku menunggu diluar pintu. Suasana  jam 1 malam waktu Minnesota sungguh sepi. Dan tidak ada orang selain aku disini. Aku coba tunggu hingga 15 menit tidak ada mobil yang datang atau lewat. Karena takut, aku masuk ke gedung bandara untuk cari wifii dan kontak om Api. Katanya dia sudah di pintu 6. Bathinku saat itu pintu 6 bagaimana?aku udah nunggu lama di pintu 6 tidak ada yang datang satu orangpun. Aku coba keluar lagi dan suasana tetap sepi tidak ada orang. Aku coba photo lokasinya setelah itu masuk gedung bandara lagi. Foto aku kirim ke om Api dan dia tertawa terbahak-bahak. Rupanya aku berada di pintu 6 keberangkatan sedangkan om Api menunggu aku di pintu 6 kedatangan. Pintu keberangkatan ada dilantai satu dan pintu kedatangan ada dilantai basement. Setelah bertemu dengan om Api, om Api memberi petunjuk padaku bahwa untuk menentukan mana pintu keberangkatan dan kedatangan adalah plangkat bertuliskan “bagasi”. Ikuti aja plangkat itu, maka kamu akan sampai pada pintu kedatangan. Sejenak kita photo berdua dulu sebelum kita meluncur ke rumah om Api. Perjalanan dari bandara ke rumah om Api tidaklah jauh. Berhubung sudah subuh, keluarga om Api sudah pada tidur semua dan aku langsung dibawa ke kamar yang sudah disiapkan untukku. 

 

Sungguh indah rumah-rumah di daerah Minnesota. Rumah yang tidak ada pagar pembatas antar tetangga kecuali yang punya kolam renang dirumahnya. Kata om Api, bila punya kolam renang wajib hukumnya halaman rumah harus diberi pagar. Karena takutnya kalau ada orang yang sedang mabuk berjalan di halaman rumah bisa jatuh ke kolam dan pihak yang punya kolam renang yang akan dikenai hukuman. Hampir semua rumah di daerah Minnesota mempunyai basement dan kamar yang disiapkan untukku adalah bagian basement. Dari lantai hingga dindingnya semua diselimuti oleh karpet tebal. Sungguh hangat sekali. Di kamar basement itu selain ada tempat tidur, juga ada sofa untuk duduk-duduk bersama keluarga. Ada meja bilyar juga untuk bermain bersama keluarga. Kata om Api, ruangan basement ini digunakan saat musim salju berlangsung. Karena saat musim dingin, Suhu udara di Minnesota ini sangat dingin sekali dan salju bisa mencapai ketebalan 1 meter. Langsung aku cek di peta, posisi Minnesota memang berada di Amerika bagian utara berbatasan langsung dengan negara Kanada. Dan saat aku berkunjung ini adalah akhir musim gugur. Saat daun-daun di Minnesota mulai berwarna. Puncak keindahan warna di akhir bulan oktober, sebelum berganti menjadi musim dingin. 

Pagi hari ketika aku bangun suhu udara di Minnesota mencampai 9 derajat celsius. Aku berjalan keluar ke belakang rumah om Api yang memiliki kolam renang. Diteras belakang ada bangku yang sudah basah karena embun pagi dan angin bertiup sepoi membawa hawa dingin. Karena om Api masih harus melakukan pekerjaannya, dan daripada aku hanya bersembunyi di dalam kamar basement. Aku ingin berjalan-jalan di danau dekat rumah om api. Nama danau itu adalah danau BlackHawk. Dinamakan seperti itu karena bentuk danaunya mirip seperti kepala burung. Danaunya sangat kecil namun dipinggir danau dikelilingi jalan setapak. Di jalan setapak itulah kujumpai beberapa orang beraktifitas. Entah hanya sekedar berjalan sendirian, bersama keluarga bahkan bersama anjing mereka. Ada juga orang yang lari-lari mengitari danau BlackHawk tersebut. Orang-orang Minnesota sangatlah ramah. Setiap berpapasan pasti selalu menyapa walaupun dia tidak mengenalku dan pasti menganggap aku orang asing. Untuk mengitari danau BlackHawk kurang lebih membutuhkan waktu 30 menit dan cukup lumayanlah membikin badan berkeringat dan menepiskan rasa dingin karena angin yang bertiup sepoi-sepoi. Setelah pekerjaan om Api selesai, dia menyusulku ke danau dan mengajak makan siang bersama keluarganya. Kita tidak makan di rumah karena istrinya kerja di kota St Paul. Supaya bisa makan ditengah-tengah, kita pergi makan di restoran khas amerika. Direstorant itulah aku menemukan kehangatan keluarga om Api. Semua meluangkan waktu aktifitas mereka untuk makan siang bersama. Istri om Api ijin perusahaannya untuk makan siang bersama keluarga. Anaknya yang kedua keluar dari kampusnya untuk makan siang bersama dan Anak pertamanya mengajak pacarnya juga makan siang bersama. Terasa sungguh indah perjumpaan saat itu, membawa kerinduaanku kepada keluargaku di Indonesia. Dan aku menangkap kerinduan itu ada  di keluarga om Api ini. 

Setelah makan siang, aku diajak om Api ke sebuah danau yang agak luas.Nama danau tersebut adalah Danau Nokomis. Rencananya dia akan mengajak aku bermain kayak disana. Sungguh senang rasa hatiku. Selama ini aku hanya menikmati keindahan kayak dari postingan dia di facebook dan sekarang aku bisa menikmati langsung. Dari rumah mobil rupanya sudah diisi 2 buah perahu kayak. Setibanya di lokasi, aku sudah tidak sabar untuk bermain kayak. Seperti danau BlackHawk. Danau ini pun dikelilingi jalan setapak dan beberapa titik ada arena bermain anak. Yang membedakan danau ini dengan danau BlackHawk adalah danau ini banyak perahu layar dan ada garis pembatas bagi yang ingin berenang. Danau ini sangat ramai sekali dan bermacam-macam aktifitasnya. Ada yang sekedar jalan-jalan bersama keluarga dan anjingnya, ada yang bersepeda, ada yang berenang, ada yang memancing, ada yang bermain kayak seperti aku, ada yang bermain perahu layar. Danau ini jauh dari tercemar, perahu yang boleh didanau ini hanyalah perahu layar. Perahu berbahan bakar dilarang disini. Bahkan untuk aktifitas seperti main kayak dan perahu tidak boleh masuk ke daerah pembatas bagi yang sedang berenang. Sungguh, disini diatur sedemikian sehingga supaya semua dapat dilakukan dengan nyaman. Aku bisa merasakan ini semua adalah anugerah dan sebentuk pengalaman yang sangat indah sekali. Keteraturan, kedisplinan, kehangatan, dan kebersamaan bisa melebur menjadi satu dalam kehidupan di minnesota ini. 

Tak bisa kupungkiri, Minnesota adalah salah satu tempat yang akan selalu membuatku merindu. Ada sebuah keluarga yang akan selalu menawarkan kehangatan dan kedamaian disana. Om api sekeluarga, terimakasih banyak atas pengalaman indah ini. Semoga dikemudian hari aku dan keluarga masih diberi kesempatan untuk mengecap keindahan dari keluargamu di Minnesota.

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *