Aku, Kesetiaan dan Kang Je

Malam hari baru menutupi bumi.

Sunyi sepi dan dingin dihembuskan angin di luar, membuatku malas pergi kemana-mana. Padahal bosan juga kalau terus menerus ada di dalam kamar.

Sendirian.

Ditemani suara radio atau tivi yang tak pernah tahu apa yang sesungguhnya diinginkan hati.

“Memangnya kamu lagi pengen apa, anakKu?” suara itu mendadak muncul selepas aku mengakhiri main solitaire di komputer.

“Eh, Kang Je… Udah lama?” tanyaku tak menjawab pertanyaanNya.

Kang Je menjitak kepalaku tak keras. “Kamu ini…, ditanya malah nanya. Hei, pertanyaan itu buat dijawab bukan buat ditanya lagi.”

“Hehe…,” aku menyeringai. Tanpa rasa bersalah.

“So…?? Apa yang kamu lagi inginkan sekarang?” Kang Je mengulang pertanyaannya lagi.

“Apa ya?” Aku berpikir dulu. Rasanya banyak sih yang kuinginkan. “Sebenernya sih bukan keinginan, tapi jawaban atas pertanyaan yang akhir-akhir ini menggangguku.”

“Pertanyaan apa?”

Aku mengubah posisi dudukku. Berhadap-hadapan dengan seseorang yang selalu ada di saat kapan pun aku membutuhkanNya.

“Menurut Kang Je, apa sih arti kata setia?”

Kang Je memandangku sejenak. Nampaknya ia tengah memastikan aku sedang bertanya serius barusan. Ah, seperti biasa, tatapannya itu lho… Nggak kuat. Ada welas asih yang nggak bisa aku temui di mana pun. Bahkan pada diri orang yang aku sayangi selama ini sekalipun.

Tatapan mata Kang Je benar-benar mampu menghipnotis kegundahan rasa, kekeringan jiwa dan kesuntukkan masa. Oh…

“Kalau menurut kamus besar bahasa Indonesia yang biasa kamu baca, setia itu kan sama dengan loyal atau patuh. Jadi setia adalah kata sifat yang berpengaruh pada sebuah pendirian, perjanjian atau prinsip seseorang.”

Kepalaku mengangguk-angguk. Hebat juga Kang Je nih… Suka baca kamus juga ternyata.

“Lalu, ketika kesetiaan itu diingkari, apa ada hukuman setimpal yang harus diterima?

Kang Je mengecilkan volume tivi dulu dengan remote yang ada di dekatNya.

“Kesetiaan itu mungkin seperti tivi ini, bisa disetel maksimum atau minimum. Tapi, sekecil apa pun volume yang ditekan, gambar yang ada di tivi tetap ada. Tivi nya juga tetap terlihat. Semakin kecil volume yang dipilih, semakin tak jelas pesan yang disampaikan. Tapi, kalo semakin keras volume yang disetel, kita malah bingung dengan suara yang memekakkan telinga. Jadi harusnya volume disesuaikan dengan gambar atau acara yang sedang kita tonton.”

Gantian aku yang memandang Kang Je.

Bingung.

Kang Je rupanya tahu aku perhatikan bingung gitu. Dia tersenyum rada nakal.

“Bingung yaaa??!!”

Kepalaku mengangguk-angguk.

Tiba-tiba tubuh Kang Je mendekat. Direngkuhnya bahuku. Pintu yang memang terbuka lebar mendadak seperti memberi pemandangan lain malam ini.

“Lihat ke langit anakKu… Betapa setia bulan pada bintang, langit pada bumi atau angin pada alam. Bayangkan ketika mereka tak setia lagi menemani, apa kamu akan dapat menikmati malam seindah malam ini?”

“Tapi, kalau mereka merasa tidak ada kecocokan lagi. Atau karena gagahnya sinar mentari pagi membuat bintang beralih dari bulan, apakah ada hak langit tak mendukung mereka? Toh, sama-sama ada di satu tempat?”

“Itulah inti dari kesetiaan, anak-Ku,” Kang Je melepas rengkuhan-nya dariku. “Ketika yang sudah dipasangkan mempunyai banyak alasan untuk mencoba lepas dan membenarkan pengingkaran maka makna kesetiaan itu tak akan lagi terlihat terang.”

Aku diam, mencoba mengendapkan apa yang terdengar barusan.

Sejenak nafas kuambil panjang. Otakku membayangkan seandainya benar terjadi bintang bermain mata dengan matahari dan tak mau menemani bulan diantara malam, apa yang terjadi? Bisa jadi, siang akan kian cantik dipandang, tapi bagaimana dengan malam? Akankah dia mengeluarkan tangis tiap hari tak berkesudahan?

“BapaKu telah menjadikan baik segala sesuatunya. Ia memasangkan banyak hal agar tak terlepas satu sama lain begitu saja. Bahkan kesetianNya telah diperlihatkan saat Aku merasa ditinggalkan banyak sahabat, sesaat hukuman salib tak dapat Kuhindarkan.”

Kang Je berdiri sebentar. Dia menutup jendela supaya angin dingin tidak terlalu menyerbu. “Aku tahu, manusia sepertimu seringkali tak bisa mengekang nafsu duniawi. Begitu ada yang dirasa lebih baik, tanpa banyak berpikir lagi ia bisa meninggalkan kesetiaannya selama ini. Kesetiaan pada keluarga, teman, pekerjaan, alam dan… Aku…”

Saat terucap saatu kata terakhir, nada muram itu jelas terdengar di telinga. Kang Je pun tertunduk seperti menahan kesedihan terdalam. Raut muka yang semula ceria, seperti menurun, tak tersembunyikan.

Aku jadi nggak enak sendiri.

Apalagi aku juga merasa tersindir. Sempatlah beberapa kali kesetiaan ini teruji, nyaris mengikuti arus yang katanya lebih menjanjikan. Sebelum pada akhirnya, sentuhan Kang Je juga yang mengembalikan kesetiaan itu pada keadaan semula.

“Jika ada yang mengingkari kesetiaannya sendiri, Aku tak pernah berniat menghukum mereka hingga membuatnya menderita. Tapi…, alam yang sangat mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, akan mengingatkannya. Meski kadang umpatan yang Kudapat, percayalah, Aku akan tetap setia menyertai dan menunggumu di sini.”

Ooohhh…

Aku tak mampu berkata-kata lagi.

Kelu.

Hanya satu yang kini jelas pasti kutahu… Terus ajari aku untuk tetap selalu setia padaMu, Tuhan…

 

( Permenungan dari sahabat, kakak masa kecil yang tinggal di Jerman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *