Universitas Louisiana of Lafayette, ada sepenggal cinta tertinggal disana

Setelah menunggu beberapa jam di gate bandara Miami, penerbanganku selanjutnya adalah Miami menuju New Orleans. Kalau pesawat yang kunaiki dari Paramaribo-Miami adalah pesawat Caribian Airlines, sekarang aku menggunakan pesawat American Airlines untuk terbang dari Miami ke New Orleans. Ruteku kali ini ke New Orleans karena aku mempunyai kakak kelas yang bernama Ignatius Cahyanto dan dia  sudah menetap  di sebuah kota yang bernama Lafayette, Louisiana. Aku biasanya memanggilnya dengan nama Kang Pulung. Dia merupakan salah satu dosen di Universitas Louisiana Laffayette. Dan salah satu tujuanku bepergian ke Amerika adalah menemui dia. Rupanya keinginanku tersebut direspon baik olehnya bahkan aku diminta untuk bercerita di depan kelasnya pas mata kuliah international tourism. Awal mula aku bingung dan takut. Bahasa inggrisku jelek sehingga aku takut malah membuat malu dia dihadapan mahasiswa atau mahasiswinya. Tapi dia terus saja mensuportku untuk mau. Terserah aku mau bercerita apa, pokoknya tentang Indonesia dan nanti dia selalu mendampingi ketika aku bercerita bahan materiku. Akhirnya tema bahan cerita yang akan kusajikan di mata kuliah international tourism Universitas Louisiana, Lafayette adalah “Wonderful Indonesia”, dengan spesifik materi adalah kota kelahiranku Yogyakarta. Bahan materi yang aku siapkan di powerpoint adalah keterangan-keterangan singkat tentang Indonesia dan Yogyakarta. Selain itu aku banyak mengumpulkan photo-photo dan cuplikan-cuplikan video tentang keindahan Indonesia dan Yogyakarta. Untuk bahan materi sudah tersusun rapi, konsep cerita yang akan kubikin juga sudah jadi. Photo-photo dan cuplikan-cuplikan video yang kusiapkan cukup banyak karena ini strategiku untuk mengatasi kelemahan berdialog dalam bahasa inggris. Harapanku dengan melihat photo-photo dan cuplikan-cuplikan video mereka jadi lebih memahami apa yang akan kuceritakan. Setelah dari segi materi sudah selesai dipersiapkan selanjutnya aku mempersiapkan dari segi penampilan. Berhubung Yogyakarta yang aku jadikan bahan cerita maka kostum yang aku pakaipun setidaknya sudah menunjukkan citra yogyakarta. Maka pakaian tradisional jawa yang aku pilih untuk kostum ketika aku mengisi mata kuliah tersebut. Aku siapkan blangkon, beskap, jarik dan selop. Cuma keris saja yang tidak aku bawa karena takut dikira senjata tajam oleh pihak imigrasi Amerika.

 

Penerbangan Amerikan Airlines dari Miami ke New Orleans membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Setibanya di Bandara New Orleans aku tidak perlu melewati penjagaan imigrasi karena penerbanganku termasuk penerbangan domestik Amerika. Kang Pulung mengatakan agak terlambat menjemput ke bandara karena ada tambahan kelas, tapi rupanya setibanya aku dibandar dia sudah stand by dipintu keluar bandara. Wow…sekian lama tidak bertemu, dandanannya sungguh sangat trendy. Sudah layaklah disebut dosen universitas di Amerika. Kita berdua ngobrol sebentar di pintu keluar dilanjutnya berjalan menuju ke tempat parkir bandara New Orleans dimana mobil mercy-nya diparkir. Perjalanan dari bandara New Orleans ke Lafayette memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sungguh selama perjalanan aku dibuat kagum dengan suasana sekitar. New Orleans adalah daerah Amerika dibagian bawah, yang berdekatan dengan Teluk Meksiko dan Muara Sungai Mississippi, sehingga banyak area yang berawa-rawa. Dan hebatnya lalu lintas darat dibangun diatas rawa-rawa tersebut. Sehingga pemandangan yang dimunculkan seperti kita sedang membelah hutan air yang luas. Lalu lintas sepanjang New Orleans – Lafayette dapat dilaju dengan kencang namun juga sangat teratur. Kata Kang pulung banyak camera yang dipasang sepanjang jalan atau polisi negara bagian yang selalu berjaga disudut-sudut jalan. Biasanya mereka memburu pengendara yang melanggar aturan kecepatan berkendaraan. Setibanya di Lafayette, hari sudah gelap dan aku langsung diajak ke Restorant PF Chang. Restaurant ini adalah restoran china. Namun ketika dari luar, orang tidak akan mengira kalau ini adalah restoran china. Dari bentuk bagunan dan setingan tempat duduk seperti pada umumnya restoran. Namun buatku ini termasuk restoran yang mewah. Untuk minum aku disarankan Kang Pulung untuk merasakan es kelapa muda dan untuk sanck aku memilih lumpia dan makan besarnya adalah chap soi daging. Kang Pulung mengatakan kalo dia rindu masakan asia, restoran ini selalu menjadi pilihan utama dia untuk mengobati kerinduan terhadap makanan asia. 

Setelah makan malam selesai, kita melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Kang Pulung. Rumah lantai 2 bentuk kotak dari luar kelihatan minimalis. Namun ketika masuk kedalam dijamin, raut muka pasti yang muncul hanya satu : “dlongop” . Sebuah kamar yang rapi sudah disiapkan untukku, jadi membuatku merasa tersanjung. Ketika aku sedang meletakkan tas dan barang bawaanku, rupanya Kang Pulung sedang didapur dan meracik minuman kesukaan dia yaitu “mojito”. Minuman ini termasuk minuman coctail dari Kuba. Mojito ini biasanya dibuat hanya dari 5 bahan yaitu: Rum, gula, air soda, limun dan daun mint. Namun Kang Pulung yang pernah mempelajari perhotelan mempunyai racikan tersendiri sehingga rasanya sangat maknyus dan aku suka sekali, apalagi ditambah bumbu-bumbu cerita masa lalu dan cerita pengalaman Kang Pulung bagaimana sampai dia menjadi dosen di Universitas Louisiana Lafayette ini. Sungguh pengalaman yang unik dan indah sekali aku mendengarnya. Namun sayang cerita harus terputus karena besok ada tugas yang paling utama bagiku yaitu bercerita tentang “wonderful Indonesia”. Sebenarnya aku sudah siap secara materi dan mental, namun kembali aku menjadi deg-deg an ketika kang Pulung mengatakan bahwa ini adalah materi yang dibuat oleh kang Pulung terbuka untuk umum. Jadi nanti yang akan hadir tidak hanya mahasiswanya saja namun mahasiswa diluar International Tourism juga akan menghadiri, termasuk dosen-dosen Universitas Louisiana yang tertarik akan Indonesia. Batin hatiku : “mati aku dab!!!”.

Universitas Louisiana Lafayette sangat besar. Bangunannya klasik yang dindingnya adalah bata merah semua. Bangunannya mirip sekali dengan bangunan perancis. Dan bahkan nama lafayette diambil dari bahasa perancis. Menurut kang Pulung, di Negara bagian Louisiana memang sangat kental dan cenderung ke Perancis sama halnya dengan Miami Florida sangat kental dan cenderung ke Spanyol. Jadi sangat wajar jika bangunan dan bahasa yang banyak digunakan di Lafayette adalah bahasa perancis. Berhubung mata kuliah International Tourism dimulai pukul 14.00 maka aku diajak makan siang dahulu di kantin Universitas Louisiana Lafayette. Kantin ada dilantai dua bangunan yang berbeda dari bangunan tempat kang Pulung mengajar. Kita jalan kaki melewati taman dan rawa. Di rawa tersebut banyak sekali aku lihat buaya yang bebas berkeliaran. Aku sempat mengabadikan beberapa photo buaya yang bebas hidup di Universitas Louisiana. Di rawa tersebut juga ada larangan untuk memberikan makan kepada para buaya. Aku sempat bertanya kenapa tidak boleh diberi makan? Kang pulung mengatakan biarkan para buaya itu mempunyai rasa takut kepada manusia. Kalau kita beri makan mereka rasa takut akan manusia bisa hilang dan itu sangat menjadi berbahaya sekali buat orang-orang yang beraktifitas disini. Dan aku sendiri merasakannya. Ketika aku melewati jalan setapak, buaya yang terdekat langsung bergerak untuk menjauhiku.

Sehabis makan siang, akhirnya waktuku tiba. Aku mulai ganti kostum diruang kerja kang Pulung. Blangkon, beskap, jarik dan selop sudah aku pakai semua. Dan aku diantar kang Pulung menuju ruang kelas. Sepanjang lorong, aku menjadi tontonan mahasiswa-mahasiswi Universitas Louisiana. Mereka kelihatan menatapku dengan senyum yang menarik. Dan selalu aku sapa dengan kata : “hello”. Ruang kelas lumayan besar dan sungguh diluar bayanganku, mahasiswa-mahasiswi yang hadir kurang lebih sekitar 60 orang. Semua kelihatan sangat penasaran. Tak ada yang lain yang bisa kulakukan selain tebar senyuman dan tertawa. Bercerita Indonesia aku awali dengan sebuah permohonan maaf bila bahasa inggris saya buruk dan sebuah pertanyaan yang sangat pede. “Diantara semuanya ini apakah ada yang tau tentang Indonesia? silahkan tunjuk jari”. Masya Allah, dari 60 orang itu hanya ada 2 orang yang tahu tentang Indonesia. Satu mahasiswi Amerika dan satu dosen Universitas Louisiana yang pernah belajar batik di Indonesia. Pada saat itu aku hanya tertegun menghadapi kenyataan yang ada. Dalam benakku, Indonesia adalah negara yang aku banggakan dan aku beranggapan bahwa orang pasti mengenal Indonesia apalagi negara Amerika. Karena di Indonesia, negara Amerika sangatlah dikenal. Akhir 2 orang tersebut aku minta maju untuk mengambil sovenir yang sudah aku bawakan. Aku membawa 6 buah sovenir. 3 buah blangkon yogya dan 3 buah dompet batik. Setelah kagetku hilang, aku mulai bercerita tentang Indonesia terlebih dahulu dan kemudian mulai bercerita indahnya yogyakarta. Cerita aku selingi dengan kolase photo dan aku akhiri dengan menampilan cuplikan-cuplikan film tentang indahnya yogyakarta. Setelah itu menginjak acara tanya jawab. Terus terang saat inilah tanganku mulai berkeringat dan peluh mulai menetes. Aku dredek. Bisa dikatakan ada sekitar 6 pertanyaan tentang materiku. Dan aku jawab sebisaku dengan bahasa semampuku. Disinilah hebatnya kang Pulung. Dia sangat membantu aku dalam menjelaskan kepada audiens semuanya secara mendetail. Bagaimana Pariwisata Indonesia, fasilitas penunjang dan akomodasinya. Bagaiamana agama-agama yang berada di Indonesia bisa menjadi bagian dari pariwisata Indonesia. Bahkan sampai peran ibu susi pudjiastuti dalam perikanan indonesiapun kang Pulung sangat fasih menjabarkannya. Kang Pulung, kamu memang luar biasa.

Di akhir acara, adalah puncak dari kebahagiaanku bisa hadir di Universitas ini. Bagaimana suasana kelas riuh dengan tepuk tangan dan semua tersungging senyum bahagia. Beban berat bahwa aku hanya lulusan sma, berbahasa inggris saja hanya sebatas bahasa tarzan. Ketakutan akan dicemooh, dibully dan malah mempermalukan kang Pulung sebagai dosen disini saat itu sirna sudah. Orang-orang yang kujumpai hari ini adalah orang baik semua. Dan aku berterima kasih dan bersyukur diberi kesempatan untuk berdiri dan bercerita tentang Indahnya Indonesia dihadapan orang-orang amerika. Walau dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang ada. Pengalaman hari ini, buatku adalah salah satu pengalaman terindahku. Aku dapat berbicara tentang indahnya Indonesia yang sangat aku rindukan dan cintai. Dimana anak-anak dan istriku berada saat ini. Aku pada saat itu juga berdoa semoga kelak anak-anakku dapat terbang tinggi menggapai cita-citanya. Teruntuk  Kang Pulung dan Universitas Louisiana Lafayette, terimakasih banyak atas semuanya. Kalian sudah menjadi sepenggal cinta dari sosok yang bernama Nanang Sumaryadi.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *