Melalui Trinidad and Tobago, perjalananku ke kota pertama di Amerika

Perjalanan liburanku kali ini tidak pulang ke Indonesia, melainkan pergi ke negara Paman Sam Amerika. Untuk tahun 2017 yang lalu, aku mendapat jatah cuti liburan selama 2 minggu. Terasa terlalu pendek bila aku memutuskan tetap kembali ke Indonesia, maka aku ingin melihat dunia yang baru yaitu Negara Amerika. Di sana, aku memiliki beberapa teman yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Kang Ignatius Cahyanto yang menjadi dosen dan menetap di Lafayette, Louisianna. Om Leo Sudibyo, seorang mahasiswa di Universitas Illinois dan Om Api Sulistyo yang menetap tinggal bersama keluarganya di Minesotta. Jauh-jauh hari aku sudah mengatur jadwal dengan mereka bertiga, Setelah aku memutuskan cuti tahun 2017 mengunjungi mereka bertiga.  Karena selama ini, hanya dengan kang Ignatius Cahyanto yang pernah bertatap muka waktu jaman SMA, sedangkan dengan om Leo Sudibyo dan om Api Sulistyo belum pernah bertemu namun intens komunikasi melalui sosial media. Komunikasi kami berempat semakin intens agar supaya dalam jangka waktu 2 minggu aku bisa berkunjung ke tempat mereka bertiga dan yang paling utama adalah aku dapat menikmati indahnya amerika.Pesawat dari Paramaribo menuju Miami berangkat pukul 06.00 pagi dan 3 jam sebelumnya aku harus sudah melakukan boarding pass. Sedangkan jarak Paramaribo ke bandara zanderij kurang lebih ditempuh sekitar 1-2 jam bila suasana malam hari. Aku berangkat dari kediaman kurang lebih pukul 01.30 dini hari. Seperti biasa, aku selalu mengkontak taksi untuk membawaku ke bandara zanderij. Rute penerbanganku dari Paramaribo tidak bisa langsung terbang ke Miami, pesawat perlu transit dulu di Trinidad and Tobago.

Trinidad and Tobago adalah negara kepulauan yang terletak di laut Karibia bagian selatan, seberang laut Utara Venezuela, dan di sebelah selatan Grenada di gugus kepulauan Antilles kecil. Negara kecil ini hanya terdiri dari dua pulau utama yakni pulau Trinidad, dan Pulau Tobago ditambah dengan beberapa pulau pulau berukuran mini. Negara ini beribukota di Port of Spain.Trinidad ditemukan pertama kali oleh Columbus pada tahun 1498, dan berada di bawah penguasaan Spanyol sampai dikuasai Inggris pada tahun 1797 semasa terjadinya perang Spanyol – Inggris. Nama Trinidad atau nama asli “La Isla de la Trinidad” atau ‘Pulau Trinitas’ diberikan oleh Christopher Columbus yang tiba di sana pada tanggal 31 Juli 1498, dan mengklaim pulau tersebut sebagai milik Spanyol dengan penguasa pertamanya gubernur spanyol Don José Maria Chacón yang tiba di sana bersama kedatangan kapal laut Inggris pada tahun 1797. Di saat yang sama pulau Tobago (diambil dari kata Tobacco – tembakau) mengalami peralihan kekuasaan dari Spanyol, Inggris, Prancis Belanda, dan kolonialisasi oleh Courlander. Trinidad & Tobago menjadi milik Inggris sejak ditandatanganinya perjanjian Armiens tahun 1802. Trinidad & Tobago memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 31 Agustus 1962, dan berubah menjadi Republik pada tanggal 1 Agustus 1976. Trinidad & Tobago mengandalkan sektor industri sebagai sumber pendapatannya terutama dari sektor perminyakan, dan petrokimia. Trinidad and Tobago berbagi wilayah laut dengan beberapa Negara tetangganya termasuk Barbados di sebelah timur laut, Guyana di sebelah tenggara, dan Venezuela di sebelah selatan, dan barat. Keseluruhan wilayah Negara Trinidad & Tobago hanya seluas 5128 km2, kira kira setara dengan 89% luas Provinsi Bali (5780 km2). Trinidad merupakan pulau terbesar setara dengan 94% dari keseluruhan wilayahnya, dan 96% penduduknya tinggal di pulau Trinidad. Pulau Trinidad pada umumnya berbukit kering, dan di sebelah utara terdapat gunung yang tingginya 940 meter, sedangkan Pulau Tobagor ditumbuhi hutan dengan pohon-pohon kayu keras.

Setelah menunggu sekitar 1 jam di Ibukota Trinidad and Tobago yaitu Port of Spain, pesawat melanjutkan penerbangan menuju ke Miami selama kurang lebih 4 jam. Selama di atas pesawat aku begitu sangat menikmati pemandangan laut dari atas pesawat. Hamparan laut karibia dan pulau-pulaunya sungguh indah bila dilihat dari atas. Sangat terasa penerbangan selama 4 jam begitu cepat berlalu. Dan saat pesawat mulai akan mendarat terasa sekali gambaran indahnya kota Miami melalui kaca jendela pesawat. Walaupun keindahan itu tidak mampu menutupi kegalauan hati bahwa ada pandangan negara Amerika yang ketat dalam birokrasi-nya dan detail pengecekan visa-nya. Pesawat sudah mendarat dan aku harus berjalan keluar menuju bagian imigrasi. Sesuatu hal yang baru ku-temui disana. Proses pengecekan visa pasport di bandara Miami tidak seperti bayangan-ku ketika pertama kali masuk ke belanda. Bila di Belanda kita harus antri untuk menyerahkan pasport dan pasti ditanya macam-macam. Di Amerika sungguhlah berbeda. Di Hall bagian imigrasi sudah tersebar mesin komputer guna untuk mengecek pasport dan visa. Aku tinggal berdiri didepan mesin kemudian memencet tombol id pasport. Mesin komputer akan langsung memunculkan data-data diriku yang pernah aku isi ketika dulu mengajukan permintaan visa amerika dan tinggal mencocokkan-nya. Tidak hanya mencocokkan data saya, mesin komputer itu juga terpasang semacam kamera yang nanti akan memotret muka pemilik pasport. Bila semua proses sudah dilalui dan selesai,  mesin komputer tersebut akan mencetak sebuah tiket yang sudah komplit dengan photo diri sendiri. Setelah itu aku mulai antri barisan untuk masuk ke negara Amerika. Aku tidak ditanya apa-apa oleh petugas imigrasi dan hanya menyerahkan tiket dataku ke mereka. Bila sudah melalui penjaga imigrasi tersebut maka sudah layak dan sepantasnya aku berteriak : I’m here america.

Berhubung di Miami ini hanya transit untuk melanjutkan perjalanan ke Lafayette, Louissiana tempat kang Ignatius Cahyanto tinggal, maka aku segera menuju ke area penerbangan domestik Amerika. Kurang lebih aku harus menunggu di bandara Miami sekitar 3 jam sebelum terbang lagi ke New Orleans. Dan di New Orleans, kang Ignatius Cahyanto sudah menunggu di bandara. Ada satu kejadian yang menyebalkan di bandara Amerika ini. Wifi gratis bandara hanya berlaku selama 30 menit dan setelah itu otomatis akan log out sendiri. Dan bila mau diperpanjang harus membayar beberapa dollar. Sungguh sedih hati ini , menunggu 3 jam tanpa dapat koneksi wifi gratis bandara. Namun jangan kawatir, saat itu ide yang muncul dalam benakku adalah mencari gerai makanan atau minuman yang mempunyai fasilitas wifi gratis. Dan akhirnya kutemukan Starbucks. Oh Starbucks, engkau adalah penyelamatku. Tanpa dirimu mungkin aku akan menderita “melongo” selama 3 jam.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *