Lost in Red Light District Amsterdam

Entah disebut pengalaman menyenangkan atau sebuah keteledoran, saat harus balik dari cuti rupanya sudah tidak bisa masuk ke pesawat. Perjalanan pulang dari Jakarta ke Paramaribo dan saat transit rencananya tinggal 2 hari di belanda malah jadi molor 4 hari di belanda. Hal itu disebabkan karena kondisi antrian di bandara Schiphol yang sungguh penuh sesak. Waktu 3 jam di bandara rupanya tidak mencukupi buat diriku hingga sampai pada penjaga teller koper bagasi bandara. Karena merasa tidak dapat mengejar waktu akhirnya kuputuskan untuk mundur 1 hari namun sayang penerbangan belanda-paramaribo ada setelah 2 hari lagi. Namun masih untung tiket yang untuk penerbangan hari itu dapat ditukar dengan tiket baru dengan membayar tambahan kurang lebih 250 euro. Terasa lemas badan ini dan sedih banget karena kembali ke Paramaribo-nya tertunda. Setelah urusan tiket pulang ke Paramaribo selesai, aku kembali ke rumah mas Simon Latin di Almere.

Berhubung mas Simon Latin dan Mbak Cholifah sudah harus bekerja,aku terpaksa sendirian di rumah mereka. Supaya aku tidak jenuh, mereka memberikan aku kartu naik kereta api dan hp untuk komunikasi bila aku punya niat untuk jalan-jalan sendiri. Awal mula aku sudah malas untuk melakukan aktivitas akibat kecewa gagal terbang ke Paramaribo. Namun mas Simon mengatakan padaku bahwa mungkin ini aku diberi kesempatan lebih lama untuk mengenal dan jalan-jalan sendiri di Belanda. Setelah suasana hati tenang, akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan. Pertama yang ingin ku kunjungi adalah Amsterdam Central. Keluar dari rumah mas Simon, aku naik bus untuk menuju ke stasiun Almere Centrum. Perjalanan naik bus kurang lebih hanya 10 menit saja, setelah itu aku cek jam terdekat untuk keberangkatan kereta yang menuju ke Amsterdam Central. Perjalanan kereta dari Almere Centrum ke Amsterdam Central kurang lebih memakan waktu 30 menit. Setelah tiba aku langsung menuju ke pintu keluar stasiun. Disana seperti anak yang hilang, bingung mau kemana. Saat itu pikiran yang terbersit adalah jalan saja kemana saja terserah kaki ini melangkah sembari photo. Dan kalau lapar nanti beli ikan haring di pinggir jembatan Amsterdam Central.

Kata orang Belanda, kalau belum makan haring berarti belum sah sampai ke Belanda. Ikan haring itu sebenarnya makanan kudapan ikan mentah ter-favorit di Belanda.  Ikan Haring dari Laut Utara ditangkap di penghujung musim semi, dibersihkan, dipotong kepalanya, lalu diolah dengan cara khusus (katanya direndam dalam cairan pankreas ikan itu sendiri). Setelah selesai, Ikan Haring mentah ini dimakan dengan kondimen irisan bawang bombay dan acar (pickles). Di seputaran kota Amsterdam, banyak terdapat warung-warung yang menyediakan ikan haring ini. Kalau ada kedai bertuliskan “Vishhandel” ataupun yang memasang bendera Belanda, umumnya mereka menjual ikan haring. Ikan Haring Mentah ini bisa dimakan langsung bulat-bulat, atau boleh juga dengan menggunakan roti. Kalau dibuat semacam sandwich, namanya “Broodje Haring” atau Sandwich Haring. Tapi kalau mau makan Niuewe Haring dengan cara lokal seperti para Amsterdammers, makanlah bulat-bulat. Caranya, pegang buntut ikan, angkat tinggi-tinggi, dongakkan kepala kita, buka mulut, dan masukkan ikan haring mentah perlahan-lahan.

Setelah dirasa perut sudah terisi, aku mulai berjalan menyusuri jalan-jalan kecil yang ditengahnya ada sungainya. Sungguh indah sekali daerah Amsterdam ini. Sungai ditengah dan diapit jalan setapak kecil dan dipinggir jalan banyak gedung bertingkat yang mempunyai jendela kaca besar-besar. Sungguh menakjubkan sekali. Dan yang lebih menakjubkan adalah dibalik jendela kaca tersebut. Banyak gadis yang duduk dikursi dengan pakaian yang seksi sekali. Sayang sekali rupanya daerah ini tidak boleh untuk foto, apalagi langsung shoot kamera ke gadis yang ada di balik jendela kaca tersebut. Setelah bertanya daerah apa ini namanya, rupanya ini adalah daerah “Light Red District Amsterdam” yang terkenal itu. Dan inilah yang dinamakan gadis aquarium Amsterdam. Cantik dan seksi coooy…

Selain gadis aquarium, rupanya di daerah itu juga banyak toko yang jualan sex toy, mesin masturbasi dan museum erotic amsterdam. Aku mencoba masuk ke semuanya. Untuk toko sex toy ya gratis asal ga beli barang disana. Segala macam aksesoris sex ada disana, dari yang wajar hingga yang ekstrem. Setelah itu aku mencoba masuk ke toko mesin masturbasi. Tokonya bentuknya seperti gedung bioskop, ada konter yang menjual koin dan banyak bilik kecil. Bilik-bilik tersebut ada yang single dan ada yang dobel. Aku mencoba membeli 2 buah koin saja. 1 koin seharga kurang lebih 2,5 euro. Dan setelah mendapatkan koin, berhubung aku sendirian maka aku diarahkan ke bilik yang single. Setelah masuk ruangan sangat kecil, cuman ada layar seperti televisi dan disampingnya ada tempat untuk memasukkan koin. Didepan televisi ada sofa untuk duduk serta ada tissue yang tergantung disamping sofa. Setelah koin dimasukkan akan muncul di layar pilihan adegan yang diinginkan. satu koin akan memutar film yang diinginkan dalam durasi kurang lebih 2 menit. Aku hanya tertawa saja di dalam sana sambil berpikir, Orang belanda ini ada saja idenya dalam berbisnis dan berimaginasi.

Perjalanan selanjutnya aku mencoba masuk ke museum erotic amsterdam. Sekali masuk harus membayar kurang lebih 15 euro, dengan harga segitu, kita dapat guide dan mesin penterjemah. Guide menerangkan dengan bahasa belanda dan mesin penterjemah akan mengubahnya dalam bahasa Inggris. Guide awal mula menerangkan berawalnya daerah Red Light District ini, kemudian menceritakan kehidupan para penghuni di daerah ini. Dimulai dari berapa tarifnya hingga jenis pelayanannya. Museum ini terdiri dari 3 lantai. dilantai pertama adalah toko sex toy. Kita bisa membeli barang-barang produknya disini, dilantai kedua adalah miniatur sex dan koleksi photo-photo red light district jaman dahulu. Di lantai pertama dan kedua kita tidak boleh ambil photo karena ada aturan dari pihak museum erotic, dan baru di lantai ketiga kita bisa berphoto dan berpose sesuka kita dengan peralatan-peralatan sex yang disediakan.

Setelah melalui hari dengan aktifitas tersebut. Hati terasa senang namun pikiran menjadi agak berat. Bagiku sudah cukup rasanya aku melihat keindahan di daerah ini. Dan sudah waktunya aku harus kembali ke stasiun kereta untuk meluncur ke Almere. Namun dalam perjalanan pulang menyusuri sungai, pandanganku selalu terkesiap melihat kapal-kapal yang hilir mudik membawa para turis keliling amsterdam melalui sungai. Dan kayaknya hariku hari ini harus ditutup dengan naik kapal keliling amsterdam menyusuri sungai. Langkah kakiku membawaku ke bagian dermaga yang menyewakan kapal untuk para turis. Wow, antrian sungguh panjang sekali namun aku tetap sabar menanti giliran hingga ke kasir tempat membeli tiket. Harga satu trip kapal untuk keliling kurang lebih 15 euro. Dan biasanya satu trip memakan waktu satu jam untuk berkeliling. Disinilah indahnya Amsterdam itu. Kapal berlayar diantara para pejalan kaki di kanan kirinya. Melalui bangunan-bangunan kuno layaknya istana dan banyak para turis yang mencoba berselanjar sembari ditarik boat didepannya. Sungguh kota yang nyaman untuk menikmati hidup. Hal itu dibuktikan dengan tanpa sadar aku terlelap di dalam kapal barang sejenak. Angin sepoi-sepoi yang membelai kepala layaknya belaian tangan ibu waktu kecil aku dininabobokan. Saking terlelapnya tidak terasa kapal bersandar dan penumpang sudah naik ke dermaga, aku masih tertidur juga dan terpaksa bangun karena dibangunkan oleh kapten kapal karena trip keliling amsterdam sudah selesai.

 

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *