Sepak bola, bagian dari acara budaya Jawa Suriname

Sepak bola bagi masyarakat Suriname adalah El Classico La Liga. Pertandingan Liga Spanyol yang mempertemukan antara klub Barcelona dan klub Real Madrid. Pertandingan itu menjadi tontonan yang wajib bila ingin diakui menjadi seorang Suriname. Hampir di setiap toko, bar, tempat hiburan wajib menyiarkan pertandingan tersebut. Aktifitas kota akan sangat sepi dan lenggang ketika pertandingan itu akan berlangsung. Dan akan muncul suara dentuman mercon di setiap sudut kota bila terjadi gol dalam pertandingan itu. Hampir sebagian besar masyarakat Suriname adalah pengemar berat klub Barcelona. Setiap klub tersebut menang, suasana kota khususnya Paramaribo akan hingar bingar dan penuh pesta minum parbo beer. Namun bila klub Barcelona kalah, suasana senyi senyap layaknya berkabung. Entah mengapa mereka begitu memuja klub Barcelona. Mungkin karena banyak pemain klub Barcelona yang berasal dari Amerika Latin, sehingga identitas diri bahwa Suriname adalah bagian dari Amerika Selatan merasa terangkat. Seperti Neymar (Brasil) namun sekarang sudah pindah ke PSG Paris, Leonel Messi (Argentina), dan Luis Suarez(Uruguay). Kaos-kaos klub Barcelona pun bertebaran disetiap toko-toko pakaian di Suriname. Hal tersebut kontras sekali dengan fans klub Real Madrid. Realitas bahwa pecinta klub Real Madrid di Suriname ada namun jumlahnya kalah jauh bila dibandingkan dengan fans klub Barcelona.

Fanatisme dan kecintaan akan klub sepakbola membawa dampak dalam kehidupan bermasyarakat di Suriname. Bila datang ke Suriname akan banyak dijumpai lahan-lahan kosong yang diubah menjadi lapangan sepak bola atau futsal. Di kota Paramaribo sendiri mungkin ada ratusan lapangan sepak bola namun semua bukan dalam kapasitas standar FIFA, namun aktifitas untuk olah raga Sepak bola bisa dijumpai setiap sore hari di sini. Bahkan Suriname pun mempunyai Liga Sepakbola semi profesional seperti klub Monggotapu, RobinHood, WBC, Noord dll. Pemain yang terlibat dalam liga semi profesional tersebutpun sangat multi etnis, seperti kreol, hindustani, jawa , maroon. Namun mayoritas banyak yang beretnis kreol. Untuk etnis jawa sendiri yang sekarang masih aktif dan masuk ke tim nasional Suriname hanya ada 1 saja, yaitu Bruce Diporedjo. 

 

Dalam tradisi acara masyarakat jawa Suriname, Sepak bola selalu masuk dalam program acara. Tradisi Acara masyarakat jawa Suriname seperti bersih desa yang sudah rutin dilakukan setahun sekali di beberapa daerah di Suriname. Daerah yang rutin melakukan budaya bersih desa antara lain daerah : Purwodadiweg, Decranaweg, Kwarasan, Meezorg, Puanani, Klivia, Nieuw Amsterdam dan daerah-daerah masyarakat jawa yang lainnya. Agenda acara biasanya ada bazzar jualan makanan khas jawa, pementasan tari, pementasan jaran kepang, ludruk ala suriname yang bernama cabaret, dan tidak lupa turnament mini sepak bola.

Makanan khas jawa yang rutin dijual di bazzar bersih desa antara lainnya adalah lemet, sotoy, lontong ayam, arem-arem, telo teri dll. Pementasan tari jawa juga masih dicoba untuk dilestarikan oleh komunitas-komunita jawa di Suriname, dan terkadang mereka mengundang penari-penari yang berlatih tari di Kedutaan RI Paramaribo untuk ikut meramaikan acara bersih desa tersebut. Demikian juga pementasan jaran kepang, acara ini yang banyak dinantikan oleh para pengunjung bersih desa. Adegan kerasukan jadi monyet, jadi kuda dan aksi mengelupas buah kelapa dengan mulut menjadi tontonan yang sangat dinikmati bukan hanya orang jawa namun juga pengunjung yang berlainan etnis. Bagi mereka sungguh suatu hal yang menakjubkan aksi-aksi orang yang terlibat dalam pementasan jaran kepang tersebut. Bagi kaum awam, atraksi-aktraksi mereka sungguh berada di luar nalar manusia. Dalam kondisi kerasukan, mereka dapat melakukan segala hal yang tidak dapat dilakukan manusia pada umumnya. Dan itu membikin pengunjung yang melihat seperti “melongo” saja. Namun, di Suriname sekarang ini komunitas jaran kepang mungkin hanya dapat dihitung dengan jari saja. Banyak yang sudah tutup komunitasnya.

Lain halnya dengan Ludruk ala Suriname yang bernama cabaret. Pementasan ini penuh dengan banyolan dan lelucon yang sangat menghibur pengunjung. Bahasa yang digunakan kebanyakan adalah bahasa campur aduk antara belanda, sranang tongo dan jawa ngoko. Dan yang lebih khas lagi adalah semua pemain cabaret adalah lelaki, walau dalam perannya ada pemeran ceweknya (lelaki didandani layaknya wanita). Dan itu yang membikin suasana menjadi sangat lucu. Dan tema-tema cerita yang diambil dalam cabaret juga tema-tema kehidupan sehari-hari masyarakat jawa suriname. Sehingga  celoteh, lelucon yang ditampilkan sungguh sangat mengena bagi para pengunjung. Cabaret ini yang selalu menjadi sentral atau puncak penantian para pengunjung di bersih desa. Hal itu bisa terlihat ketika cabaret mulai main, hampir semua pengunjung perhatiannya terfokus disana. Maen 2 jam terasa sangat cepat berlalu.

Demikian pula dengan Sepakbola. Dalam acara bersih desa pasti selalu ada turnament mini sepakbola. Biasanya pihak panitia mengundang team-team sepakbola jawa yang ada di Suriname. Untuk sepakbola ini biasanya dipisahkan berdasarkan kriteria umur. Alasannya supaya berimbang saja. Yang umur muda melawan sesama yang umur muda dan yang umur tua melawan yang umur tua juga. Turnament mini ini bukan seperti turnamen resmi pada umumnya misalnya seperti sistem gugur atau setengah kompetisi, tetapi setiap team hanya sekali maen langsung selesai. Namun lebih pada pertandingan persahabatan saja. Tujuannya hanya untuk memeriahkan acara bersih desa dan menarik pengunjung sebanyak-banyaknya melalui sepakbola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *