Petrus Donders Sang Pembelai Kaum Lepra di Suriname

Penyakit lepra adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman mycrobacterium leprae yang menyerang kulit, syaraf, mata, selaput lendir hidung, otot, tulang dan buah zakar. Penyakit ini biasanya ditandai dengan rusaknya perifer di seluruh permukaan kulit. Lepra adalah penyakit yang menular dan harus dihindari. Penyebarannya dapat melalui binatang yang sudah terkontaminasi kuman lepra, kontak fisik dengan penderita penyakit lepra, bertempat tinggal di lingkungan endemik lepra dan menderita cacat genetik dalam sistem kekebalan tubuh. Tahun 1800an, penyakit lepra ini pernah menjangkiti Suriname. Banyak warga suriname yang menderita penyakit lepra pada masa itu. Lama kelamaan penyebaran penyakit lepra semakin meluas dan memprihatinkan. Maka, oleh para penguasa daerah Suriname saat itu mereka yang sakit lepra diasingkan ke Batavia. 

Berbicara tentang Penyakit Lepra di Batavia berarti berbicara juga tentang sosok Pastur dari Gereja Katolik yang bernama Petrus Donders. Pastur Petrus Donders hidup pada tahun 1856 – 1887, seorang pastur dari Belanda yang berkarya di Suriname pada saat itu. Pelayanan beliau sungguh sangat mengena dihati orang yang tinggal di Batavia. Kerelakan dirinya untuk tinggal dan hidup bersama mereka, keinginan untuk selalu menemani dan merawat mereka yang sedang sakit lepra sungguh luar biasa. Suatu teladan yang tidak bisa diingkari pada saat itu. Dimana penyandang sakit lepra diasingkan, disingkirkan jauh dari keluarga dan kota kelahirannya, Masih ada seorang yang bersedia menemani mereka dalam keterasingan tersebut. Oleh sebab itu, Untuk mengenang jasa-jasa beliau maka Batavia dijadikan tempat ziarah bagi umat katolik di Suriname.

Perjalanan menuju  Batavia tidak bisa melalui jalan darat, dan harus menggunakan perahu. Lokasi Batavia berada di distrik saramacca yang berbatasan dengan distrik coronie. Distrik Saramacca ini juga merupakan salah satu distrik yang banyak komunitas orang jawanya, bahkan nama daerahnya pun masih ada yang bernuansa jawa seperti : sidodadi dan kampoengbaru. Distrik Saramacca ini mempunyai luas wilayah 3.636 km² dan populasi 13.600 jiwa. Mempunyai ibu kota distrik yang bernama Groningen. Untuk menuju ke Batavia, dari Paramaribo membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam berkendaraan ke ujung distrik Saramacca yang bernama boscamp. Terus dari sana masuk ke daerah perkampungan yang bernama coppenamepunt. Kampung coppenamepunt adalah kampung nelayan. Akan banyak kapal yang bersandar di pinggir sungai coppename rivier dan untuk menuju batavia harus menyewa kapal tersebut. Perjalanan dari coppenamepunt ke batavia membutuhkan waktu kurang lebih satu jam perjalanan di air. Sesampai disana kita akan disambut dermaga dengan gapura tulisan Batavia. Setelah keluar dari dermaga, pertamakali akan disambut dengan rute jalan salib disana dengan wajah yang artistik karya seniman jawa suriname yaitu Ibu kim sontosoemarto. Tempat perhentian dibuat dari semen dan digambar secara abstrak oleh beliau, sehingga terasa sekali art-nya. Rute jalan salib ini akan berakhir di sebuah makam yaitu makam Pastur Petrus Donders. 

Kelihatannya Ibu Kim sontosoemarto yang ditugaskan untuk mempercantik dan memperindah Batavia tanpa meninggalkan makna religiusitasnya. Hal itu sangat terlihat dari patung-patung religi yang dibuatnya. Ibu kim sontosoemarto adalah seniman jawa suriname yang identik bila membuat patung selalu tidak bertangan alias buntung. Hal itu juga ditunjukkan pada bagian jalan salib ketika yesus mati di kayu salib. Beliau membuat patung yesus yang tergantung dikayu salib namun kedua tangan yesus tidak ada. Kata beliau itu karena pada saat ada bencana kedua tangan patung yesus putus. Entah sengaja atau tidak sengaja yang jelas ketika melihat patung yesus disalib tersebut, akan dapat dirasakan bahwa perasaan senasib, bela rasa terhadap orang-orang yang sakit lepra di Batavia begitu terasa. Namun Ibu Kim sendiri pernah bercerita bahwa patung tanpa tangan itu adalah ekspresi kebebasan. Pembuat patung membebaskan yang melihat untuk membayangkan sendiri posisi tangan akan seperti apa dan bagaimana. Dan tentunya setelah ikut membayangkan orang yang melihat akan merasakan bahwa kebebasan berpikir, kebebasan berimaginasi itu adalah suatu keindahan. Dan tentu saja keindahan merupakan perwujudan dari kepekaan akan lingkungan disekitar termasuk lingkungan di Batavia yang merupakan tempat tinggal orang sakit lepra.

Luas area Batavia tidaklah terlalu luas, hanya ada satu kapel posisinya di sentral area Batavia. Ada sebuah gedung serba guna yang digunakan untuk seperti musium. Didalam gedung serba guna itu banyak gambar aktifitas pastur Petrus Donders selama merawat orang-orang yang sakit lepra. Gambar ada yang dalam berupa sketsa dan patung. Selain itu juga dimunculkan poster orang-orang sakit lepra yang bertempat tinggal di Batavia saat itu. Selain kapel dan musium, disana ada beberapa rumah yang juga masih ditempati. Mungkin anak cucu dari penderita lepra pada saat itu. Pernah ditanya kenapa tidak pindah ke kota, mereka sudah terlanjur merasa nyaman di Batavia walau hanya ada beberapa keluarga saja. Katanya dulu banyak yang masih tinggal di Batavia, namun lambat laun banyak yang pindah ke kota. Entah ke daerah Saramacca atau ke Paramaribo.

 

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *