Bodo Kupat Rust en Werk Suriname

Di Indonesia, tradisi bakdo kupat atau lebaran ketupat diadakan H+7 Lebaran sebagai penanda dan wujud syukur berakhirnya bulan puasa. Tradisi lebaran ketupat mempunyai makna filosofis yang dalam, dimana ketupat merupakan simbol permintaan maaf dan simbol menjalin tali silaturahmi. Ketupat diartikan sebagai ngaku lepat atau mengaku salah. Pembungkus ketupat berupa janur diartikan sebagai nur (cahaya) yang melambangkan kondisi manusia dalam keadaan suci setelah mendapatkan pencerahan (cahaya) selama bulan puasa. Mungkin makna filosofis tersebut diambil dari pemaknaan Bahasa Jawa. Ketupat dalam bahasa jawa disebut kupat yang berasal dari suku kata ku = ngaku (mengaku) dan pat = lepat (kesalahan), sehingga bisa diartikan sebagai mengaku kesalahannya.
Tak ada yang tahu pasti mengenai asal usul tradisi bakdo kupat ini. Diperkirakan tradisi ini sudah ada sejak masuknya Islam di tanah Jawa, yaitu sekitar tahun 1400-an. Bisa jadi, tradisi bakdo kupat sudah ada dan berkembang ketika zaman penyebaran Islam oleh Walisongo. 
Kupat biasanya dibuat pada hari ke tujuh setelah lebaran. Bakdo kupat disajikan dengan beberapa menu pelengkapnya seperti opor ayam, sambal goreng krecek, rendang, dan lain-lain. Membuat kupat sendiri tidaklah sulit. Hanya dibutuhkan daun kelapa yang masih muda atau biasa disebut dengan janur. Kemudian dua helai janur dianyam menjadi kelontong kupat yang siap diisi beras. Beras yang akan dijadikan isi dalam kelontong kupat sebelumnya dicuci bersih terlebih dahulu, setelah itu dimasukkan dengan ukuran dua pertiga bagian dari volume kelontong kupat. Untuk menghasilkan kualitas kupat yang padat dan kenyal, membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam untuk mengukusnya. Kupat ini bisa tahan hingga 2 hari, setelah itu bisa di kukus kembali agar tidak basi. 
 

Di Suriname, nama Bakdo kupat sendiri  sudah mengalami perubahan bentuk kata menjadi “Bodo Kupat”. Hal itu terjadi dimungkinkan karena tradisi ini merupakan warisan leluhur, sehingga mengalami perubahan dalam pelafalan kata dan pendengaran saja. Hampir semua daerah-daerah orang jawa di Suriname mungkin merayakannya, namun yang pasti selalu ramai diperbincangkan orang jawa  Suriname adalah bodo kupat Rust en Werk.

Rust en Werk adalah sebuah daerah dekat Nieuw Amsterdam, Suriname namun dipisahkan oleh sungai Commewijne Rivier. Untuk menjangkau Rust en Werk harus naik perahu. Bila dari Paramaribo membutuhkan waktu kurang lebih satu jam naik kendaraan bermotor menuju ke Nieuw Amsterdam, setelah itu kurang lebih setengah jam naik perahu menuju ke dermaga Rust en Werk. Mayoritas penduduk Rust en Werk adalah orang jawa, bisa dikatakan 90% adalah orang keturunan Jawa. Kata Rust en Werk itu diambil dari bahasa Belanda yang artinya “Istirahat dan Bekerja”. Masyarakat jawa di Rust en Werk masih melestarikan budaya jawa seperti gotong royong. Hal itu tampak saat mereka kerja bakti memasang atap rumah seorang warga yang sudah rusak dan membersihkan sungai kecil di depan rumah mereka secara bersama-sama. 

Bila bercerita tentang Rust en Werk serasa belum lengkap bila tidak berbicara tentang tokoh yang ada disana. Meneer van allen adalah sosok yang sangat familiar di Rust en werk. Dia merupakan pemilik peternakan sapi yang besar disana. Mungkin jumlah sapi di peternakannya mencapai tiga digit nol-nya. Selain itu dia mempunyai perusahaan beton yang cukup ternama di Suriname yang bernama VABI N.V. Dalam tradisi bodo kupat Rust en Werk pun dia merupakan sponsor utama dan selalu mensuport supaya tradisi bodo kupat Rust en Werk diadakan setiap tahunnya dan dibuat semeriah mungkin. 

Dalam acara bodo kupat Rust en Werk ini dimeriahkan dengan banyak sekali kegiatan antara lain lomba balap perahu, acara hiburan berupa live music dan dansa serta pertunjukkan budaya Jawa yaitu Jaran Kepang di balai desa. Rangkaian tradisi bodo kupat ini diawali dengan Lomba balap perahu yang dilaksanakan di Sungai Commewijne Rivier. Lomba ini ada dua macam, yaitu lomba balap perahu dayung dan lomba balap perahu mesin. Untuk mengawali dan mengakhiri lomba biasanya dibunyikan suara dari desingan senapan dan kembang api. Dan biasanya meneer van allen yang melakukan selebrasi ini sebagai simbol penghormatan kepada sponsor utama bodo kupat Rust en Werk. Setelah selesai lomba balap perahu, pengunjung dihantar menuju ke balai desa Rust en Werk yang letaknya di tengah desa. Dan sepanjang jalan menuju ke sana, rumah penduduk sangat ramai sekali. Layaknya budaya “ujung” waktu lebaran di indonesia, demikian juga penduduk Rust en Werk selalu menawarkan para pengunjung untuk mampir ke rumah mereka. Dan mereka sudah menyiapkan tempat duduk dan makanan khas jawa dan suriname untuk menjamu pengunjung yang berkenan mampir bersilahturahmi ke rumah mereka. Setibanya di balai desa, acara hiburan live music dan dansa mulai digelar disana. Biasanya mereka mengundang bintang tamu artis musik ternama di Suriname, selain itu pertunjukan budaya tidak lupa mereka tampilkan pula seperti Jaran Kepang dan tarian tradisional jawa. Dalam acara tersebut semua pengunjung bebas alias gratis mengambil minuman dan makanan yang disediakan panitia bodo kupat.  Untuk menu makanan jawa  yang disajikan seperti nasi kuning, bakmi, sate, serundeng daging maupun makanan lokal Suriname seperti moksi alesi/nasi campur ala Suriname dan zoetzure tilapia/mujair asam manis dan lainnya. Dan sungguh menariknya disini. Tidak ada kupat yang disajikan dalam bodo kupat Rust en Werk.

8 comments

  1. Bro, kowe duwe bakat nulis apik, mengalir. Akan semakin menarik minat jika ditambahi “informasi lebih detail tentang sesuatu yang khas” dengan menggunakan sumber sejarah atau antropologi yang tersedia lalu dibahasakan dengan caramu sendiri yang apik dan mengalir. Misale, mencari sumber tambahan tentang tradisi bakda kupat ini di nusantara. Wah pasti ciamik.

    Nulis terus Bro, ben sehat!!

    salam saka nJawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *