Bigi Kroetoe, Tempat rekreasiku yang pertama di Suriname 2015

Tempat rekreasiku yang pertamakali sejak menginjakkan kaki di bumi Suriname adalah Bigi Kroetoe. Sebuah lokasi hutan belantara yang menjadi satu bagian dari luasnya hutan amazon di Amerika Selatan. Letak Bigi Kroetoe sendiri berada di daerah pedalaman Suriname atau orang Suriname menunjukkan arahnya dengan kata-kata “di belakang bandara International Zanderij”. Jarak tempuh dari ibukota Suriname, Paramaribo kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil. Untuk menuju lokasi tersebut, aku tidak hanya melalui jalan aspal namun juga jalan pasir bahkan jalan berlumpur. Akan terasa berat medannya ketika datang pas lagi musim penghujan. Aku sarankan bila mau datang ke Bigi Kroetoe jangan pernah mengendarai mobil sedan karena dijamin akan terjebak di jalan berlumpur, maka gunakan mobil yang memakai roda-roda besar minimal mobil kijang seperti yang selalu aku bawa. 

Bigi Kroetoe artinya adalah “rapat besar”. Diambil dari bahasa sehari-hari orang Suriname yaitu bahasa Sranan Tongo. Disebut rapat besar karena hutan itu dulu jaman perang sering digunakan untuk rapat orang-orang asli pedalaman Suriname.

Masyarakat Suriname itu dari yang aku lihat memiliki sebuah hobby yang selalu dilakukan pada saat weekend. Hobby tersebut adalah pergi dari kota menuju ke pedalaman Amazon. Tujuan dari itu untuk melepaskan kepenatan dan menjauhkan diri dari kesibukan yang sudah dijalani sepanjang hari Senin hingga Jumat. Aktifitas yang biasa dilakukan adalah berkemah di hutan, berendam di sungai-sungai kecil di dalam hutan, berburu binatang, serta memancing. Karena hobbi itu, jadi sangat wajar bila kebanyakan rumah di Suriname mempunyai hammock alias tempat tidur gantung. Berupa kain seperti ayunan yang digantung pada kedua ujungnya. Umumnya tempat tidur jenis ini digunakan oleh orang yang tinggal di daerah tropis. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hammock misalnya kain katun, kain ikat, nilon parasut , tali, hock (pengait)dan lain-lain. Hobi tersebut jugalah yang menyebabkan hari Sabtu banyak toko yang tutup setengah hari dan hari minggu tutup total. Suasana ibukotapun juga lenggang tidak seperti hari kerja.

Bigi Kroetoe menjadi salah satu destinasi untuk menyalurkan hobby orang Suriname. Pemandangan yang bisa dilihat hanya pohon-pohon liar dan besar-besar. Aliran Sungai kecil dengan air berwarna hitam menambah nyaman suasana disana. Salah satu teman kerjaku yang bernama Bu Marlene mempunyai kapling hutan beberapa hektar di Bigi Kroetoe. Dan rupanya di Suriname hutanpun sudah ada yang punya dan sudah dikapling-kapling. Bukan hanya beliau saja yang memiliki hutan tetapi banyak orang Suriname juga memilikinya. 

Pada saat aku datang ke sana, rupanya keluarga Bu Marlene juga sedang rekreasi disana. Aliran air sungai kecil yang berwarna hitam yang selalu membuatku tidak bisa menahan diri untuk berenang. Pertama kali yang selalu kutuju adalah sungai. Merasakan air yang mengalir, berenang hilir mudik bahkan menyelam selama-lamanya semakin menunjukkan kalau aku itu memang Aquarius man. Karena ini dihutan maka cukuplah bermodalkan cawatku saja untuk menyalurkan hobbi berenangku. Aku tidak membawa celana dan kacamata renang, karena ini bukan kolam renang. Ini hutan amazon.

Kemudian pada malam harinya, aku diajak suami bu Marlene untuk berburu kelinci. Hasilnya nihil . Malam itu pas dengan malam bulan purnama jadi banyak binatang yang tidak menampakkan diri, tetapi pengalaman yang kudapatkan sungguh amazing. Masuk ke dalam hutan pada malam hari, hanya diterangi senter kecil yang diletakkan di helm kepala. Aku merasakan nikmatnya menenteng senjata laras panjang dan bergaya “bak” tentara pejuang NKRI. Suami bu Marlene bercerita bahwa di Suriname orangpun tidak sembarangan bisa menggunakan senjata dan tidak sembarangan untuk memburu binatang. Senjata ada surat ijinnya dan tentunya senjata yang kutentengpun berijin. Senjata ini adalah senjata dengan peluru yang bisa membunuh seekor gajah. Jadi aku boleh menenteng tetapi urusan menembak harus yang mempunyai ijin. Sedangkan untuk hewan yang diburu pun dari pemerintah Suriname ada jadwalnya. Hewan apa saja yang boleh diburu pada bulan itu. Bila kita melanggar, ijin menembak akan dicabut dan akan dikenai denda yang sangatlah mahal.

Perasaan pertama kali menyusuri hutan adalah takut. Takut tiba-tiba dari atas pohon turun ular annaconda seperti siaran televisi di channel descovery, tetapi suami bu marlene selalu menenangkanku. Selama beberapa jam tidak kutemui seekor binatangpun sampai kita kembali ke area perkemahanpun. Akhirnya, hanya terimakasih Tuhan atas pengalamanmu hari ini. Aku bisa bernapas lega dan tidur nyenyak malam itu. Nyamuk amazonpun tak kurasakan gigitannya.

8 comments

    1. katanya sih karena hutan amazon terlalu lebat om juan…sebenarnya kalau diciduk airnya sangat bening sekali..tetapi kalau pas melihat sungainya dasarnya saja yang hitam…ketebalan hutan amazon yang menyebabkan air sungai berwarna hitam….

        1. untuk sungai di bigi kroetoe tidak ada piranhanya om, karena beda aliran hulunya…kalo suriname rivier itu baru banyak piranhanya karena masih masuk pecahannya sungai amazon. makanya obyek wisata yang dipinggir suriname rivier selalu dipasang jaring supaya orang berenang ga digigit ikan piranha

    1. waduh saya kurang tahu lucky…yang jelas disini orang jawa suriname hanya 20% dari total penduduk suriname, dan untuk generasi mudanya sedikit sekali berbahasa jawa…mereka lebih suka menggunakan bahasa sranang tongo atau belanda..entah mengapa seperti itu..ngehehehheheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *