Jumat yang “Njawani” di Suriname

KBRI Paramaribo memiliki 2 (dua) set gamelan dari Indonesia. 1 (satu) set berbahan dasar tembaga dan 1 (satu) set lagi berbahan dasar kuningan. Keduanya tersimpan rapi di tempat yang berbeda, yang satu ada di ruangan lama Kursus Bahasa Indonesia (KBI) dan yang satu tersimpan di Ruang Nusantara KBRI Paramaribo. Namun selama ini, keberadaan dua perangkat gamelan itu hanya sekedar untuk aksesoris saja tanpa pernah dimainkan. Dulu, awal mula keberadaan gamelan itu memang rencananya untuk dimainkan sehingga program nguri-nguri kabudayan jawa di Suriname tetap dapat dipertahankan dan tidak tergerus oleh perkembangan budaya lain yang ada di Suriname. Selain itu, dulu sempat ada yang mendatangkan Dalang untuk mengajar dalang masyarakat suriname yang tertarik mendalang dan memberikan pelajaran “nabuh gamelan” di KBRI. Setelah guru itu pulang ke Indonesia, pelajaran “nabuh gamelan” itu pun berhenti total dan sampai sekarang gamelan itu hanya jadi hiasan cantik di area KBRI.

Awal mula hanya sekedar ingin membersihkan gamelan dari debu dan mengusahakan supaya tetap selalu dalam kondisi mengkilat, tetapi lama-lama memunculkan rasa sayang bila memiliki gamelan 2 set tapi tidak pernah dimainkan. Akhirnya ditetapkan setiap hari jumat sore jam 15.00 kita yang merasa memiliki gamelan itu mengadakan latihan “nggamel”. Dimulailah membuka-buka file-file lama tentang notasi gamelan, brosing di internet tentang notasi gamelan dan meminta kiriman dari teman-teman yang sering latihan “nggamel” di jogja. Dari hasil “hunting” tersebut ditemukan banyak notasi lagu jawa yang bisa dimainkan dengan gamelan seperti contoh : Kebo Giro, Ricik-ricik, Srepeg Nyuro, dan Rewel. Karena kita hanya sedikit tahu tentang cara memukul gamelan sebagai awal latihan kita menetapkan hanya belajar lagu jawa “Kebo Giro” secara sendiri tanpa ada yang membimbing, nanti kalau dirasa sudah bisa baru mencoba lagu yang lainnya. Rupanya itu menjadi rintangan yang sangat besar bagi kita yang berlatih gamelan sendiri. Untuk pemain saron, bonang, gong dll, mungkin secara otodidak entah benar atau salah cara memukulnya asal sudah enak didengarkan telinga, tetapi yang menjadi kendala adalah untuk pemain kendangnya. Sampai beberapa kali latihan terasa ada yang hampar karena tidak ada yang merasa mampu untuk memainkan kendang tersebut.

Dari kesulitan itu maka muncul sosok bernama Mario, dia bekerja di perusahan Overseas Travel Agency suriname.Tetapi dia memiliki latar belakang seni tari di hidupnya. Rupanya dia pernah mengenyam pendidikan di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta pada tahun 1999. Perjalanan Mario bisa menjadi mahasiswa di ISI karena dia mendapatkan bea siswa untuk study seni tari di Indonesia. Dia dipilih karena dianggap berbakat dan mempunyai jiwa seni khususnya bidang tari menari, terlebih lagi karena dia seorang jawa suriname. Dari berprosesnya dia di seni tari ISI ini, mau tidak mau dia pun harus mempelajari tentang musik tari dan alat musiknya, salah satu adalah gamelan. Laksana gayung bersambut, dengan wawasan Mario yang lebih luas dan berpendidikan dari yang lainnya yang hanya berdasar otodidak saja, maka ditunjuklah mario untuk melatih gamelan di KBRI.

Dengan jiwa dan semangat mudanya dia bersedia ikut terlibat dalam latihan gamelan dengan menggandeng sesepuh karawitan orang jawa suriname yang bernama Bapak Mardikoen. Umur Bapak Mardikoen kurang lebih 80 tahun, dan karena alasan tertentu, beliau meninggalkan dunia karawitan. Karena sosok Mario, beliau bersedia kembali melatih gamelan setelah kurang lebih 15 tahun tidak menjamah musik gamelan. Pada tahun 1990an, Bapak Mardikoen juga pernah mendapat beasiswa dari KBRI untuk dikirim belajar selama 3 bulan di Yogyakarta. Beliau dipilih karena termasuk yang pandai memainkan alat musik gamelan, maka dari itu untuk memperdalam kepandaiannya beliau diberikan bea siswa tersebut.

Setiap hari jumat jam 15.00, Pak Mardikoen dan Mario berkolaborasi untuk melatih gamelan di KBRI. Dan kegiatan gamelan ini sempat dipentaskan pada saat perjamuan makan malam dengan Bapak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah pada awal bulan Oktober 2015 yang lalu. Bahkan ketua rombongan penari dari Jawa Tengahpun ikut andil terlibat dalam pementasan gamelan  tersebut.

Kegiatan yang awal mulanya hanya bersifat intern ini rupanya menarik dan membius masyarakat jawa suriname. Dan banyak dari mereka yang ingin ikut berlatih gamelan di KBRI. Karena melihat begitu antusiasnya masyarakat jawa suriname tersebut, maka bapak Duta Besar RI Bapak Dominicus Supraktikto merubah jadwal latihan gamelannya. Tetap hari jumat namun untuk jamnya berubah ke jam 16.00 untuk intern staff KBRI dan diteruskan jam 17.00 untuk masyarakat jawa suriname yang ingin berlatih gamelan. Dan semuanya akan dibimbing dan dilatih oleh Bapak Mardikoen dan Mario. Harapan besar yang ingin digapai dari kegiatan ini adalah pelestarian budaya gamelan jawa tetap eksis di Suriname, dan tetap selalu diperkenalkan kepada masyarakat jawa suriname khususnya kaum muda agar tidak lupa bahwa gamelan merupakan kebudayaan jawa yang tidak boleh dilupakan oleh orang jawa itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *