Dari Suriname, Bermobil Lintas Negara ke Guyana

Waktu pagi hari selasa jam 5.30, kami beserta rombongan pergi ke Guyana melalui jalur darat. Perjalanan darat dari Paramaribo hingga ke kota perbatasan wilayah Suriname yaitu Nickerie ditempuh selama kurang lebih 3 hingga 4 jam. Seperti biasa kami melaju dengan kecepatan di atas rata-rata karena mengejar kapal ferry penyeberangan. Negara Suriname dan Negara dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang bernama sungai Corantijn.  Kapal ferry yang menghubungkan Suriname dan Guyana hanya beroperasi satu kali saja setiap harinya pada pukul 11.00 waktu Suriname, dan dimungkinkan beroperasi dua kali dalam sehari bila jumlah kendaraan yang hendak menyeberang tidak dimungkinkan diangkut sekali jalan.

Perjalanan dari Paramaribo, kami pertama kali akan melewati distrik Saramacca. Distrik Saramacca ini memiliki luas kurang lebih 3.500-am km2 dan memiliki populasi kurang lebih 13.000 jiwa. Distrik Saramacca ini beribukota bernama Groningen. Distrik Saramacca ini juga banyak dihuni oleh masyarakat etnis jawa, bahkan nama-nama jawa dipakai di distrik Saramacca ini, seperti Kampoeng Baroe dan Sidorejo. Setelah melewati distrik Saramacca, kami melewati distrik Coronie. Distrik ini memiliki luas kurang lebih 3.900 km² dan memiliki populasi kurang lebih 3.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Totness. Mayoritas masyarakat di distrik Coronie ini adalah masyarakat Kreol. Sepanjang jalan di Totness, kami  menemukan banyak warung dipinggir jalan. Mereka menjual hasil kebun seperti buah pisang, sawo, manggis, dll di warung-warung tersebut, dan yang paling terkenal dari distrik Coronie ini adalah madu lebah-nya. Setelah melewati distrik Coronie, kami akhirnya sampai ke distrik Nickerie. Distrik Nickerie memiliki luas kurang lebih 5.300 km2 dan memiliki populasi kurang lebih 41.000 jiwa. Beribukota di Nieuw Nickerie dan masyarakatnya mayoritas dari etnis Hindustan dan Jawa. Berbeda dengan distrik Saramacca dan distrik Coronie, sepanjang jalan di distrik Nickerie menuju ibukotanya hanya terbentang hamparan padang yang sangat luas. Dan rupanya hamparan padang itu adalah kandang bagi ribuan para sapi yang diternakkan disana. Dan tidak hanya padang sebagai kandang sapi, hamparan padi dan hamparan pohon pisang berhektar-hektar membentang luas disepanjang jalan menuju ke Nieuw Nickerie. Sehingga bisa dikatakan bahwa di distrik ini sebagai pusatnya lumbung ekspor negara Suriname. Dan yang lebih menarik untuk dilihat adalah seringnya pesawat capung terbang diatas area hamparan padi dan pisang. Kelihatannya pesawat capung itu sedang menebar benih dan pupuk dari udara. Karena bila dilihat dari besarnya kapling-kapling petak, tidak dimungkinkan dilakukan oleh tenaga manusia. Diujung distrik inilah ada pelabuhan South Drain yang akan menjadi penghubung dengan negara tetangga Guyana.

Di Pelabuhan South Drain, kami tiba kurang lebih pukul 09.00, masih ada waktu 2 jam untuk  mengurus data diri dan mendaftarkan kendaraan yang akan dibawa ke bagian keimigrasian suriname. Setelah urusan keimigrasian selesai, biasanya untuk menunggu ijin kendaraan masuk kapal, kami biasanya masuk ke toko pelabuhan. Disini terkenal lebih murah dibanding yang dijual di luar pelabuhan karena tidak kena pajak. Syarat pembeli harus menunjukkan paspor dan ada aturannya. Satu pasport hanya diperbolehkan untuk membeli beberapa barang saja. Barang yang dijual dari sovenir seperti lego, boneka, miniatur mobil, jam tangan hingga minuman keras. Semua harga menggunakan mata uang dollar amerika.

Pukul 10.30 Semua kendaraan mulai diberangkatkan masuk ke kapal ferry. Kurang lebih bisa memuat 30 kendaraan. Penumpang ferry pun tidak hanya untuk yang berkendaraan, peroranganpun juga diangkut di dalam kapal yang sama. Kapal ferry memiliki pintu gerbang diujung-ujung kapal. Posisi parkiran mobil ada dispace bagian tengah sedangkan untuk sisi kanan dan kiri sudah tersedia bangku-bangku kosong untuk duduk para penumpang serta toilet.untuk sisi kanan kiri juga ada tangga untuk naik geladak atas. Sebelah kanan atas digunakan untuk kemudi kapal, nahkoda ada disana, sedangkan disebelah kiri atas untuk area mesin kapal dan cerobong knalpot ke atas. Selain itu sisi sebelah kiri juga ada tiang tinggi keatas dan diujungnya ada bendera suriname dan guyana. Perjalanan menyeberang sungai Corantijn memakan waktu sekitar 1 jam.

Tiba di pelabuhan guyana kurang lebih pukul 11.30, karena perbedaan waktu antara suriname dan guyana selisih 1 jam lebih cepat suriname. Kendaraan turun dari kapal ferry dan kami kembali harus mengurus surat-surat di imigrasi guyana. Setelah semua proses sudah selesai baru kami diijinkan untuk masuk ke negara guyana.

Suasana alam tidak jauh berbeda dengan suriname. Tetapi kondisi dan posisi rumah disepanjang jalan yang begitu saling berdekatan menjadi pembeda antara guyana dan suriname. Negara guyana mayoritas dihuni oleh etnis hindustan dan kreol. Sehingga corak bangunan lebih banyak ke aliran hindu walau mayoritas mereka memeluk agama kristen. Keunikan sepanjang perjalanan ke Georgetown ibukota Guyana adalah kebebasan para ternak mereka dijalanan seperti sapi, kuda, keledai, kambing dan anjing. Mereka adalah “raja” jalanan di Guyana. Setiap kami melintas dijalanan menuju guyana dan bila ada segerombolan binatang berjalan dijalan, kami wajib menyalakan lampu sein darurat dan berjalan pelan-pelan sambil menunggu mereka menepi. Selain itu, di jalanana guyana batas kecepatan maksimal kendaraanpun diatur. Setiap petunjuk arah selalu disertakan batas maksimal kecepatan dan kecepatan maksimal yang diperbolehkan hanya 80 km/jam tidak boleh dari itu. Beberapa kesempatan kami melihat ada kendaraan yang distop oleh polisi yang bertugas karena melanggar batas maksimal kecepatan.

Keunikan perjalanan menuju ke Georgetown adalah jembatan geser yang menghubungkan amtara kota new amsterdam dan rosignol. Ketika ada kapal yang akan menyusuri sungai, maka jembatan itu akan berpisah di bagian tengahnya dan bergeser membuka kesamping supaya dapat dilewati kapal yang akan melintas. Otomatis kendaraan yang akan melalui jembatan itu diberhentikan sementara waktu hingga jembatan tersambung kembali.

Perjalanan dari pelabuhan hingga ke Georgetown ibukota guyana kurang lebih memakan waktu 3 jam. Dan ketika kami akan memasuki kota georgetown kami sudah disambut dengan pemandangan dam pinggir pantai samudera atlantik. Karena secara geografis, kota Georgetown di pesisir samudera atlantik.  Georgetown tidak jauh berbeda dengan Paramaribo, hanya perbedaannya disana banyak angkutan kendaraan umum. Karena mayoritas masyarakat georgetown lebih banyak menggunakan fasilitas umum daripada kendaraan pribadi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *